jump to navigation

Kemuliaan Orang yang Menyentuh Pinggiran Masa Depan Desember 30, 2011

Posted by smpn3cipongkor in Uncategorized.
Tags: , ,
1 comment so far

Oleh : Mohammad Nuh
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan

Hari ini, 25 November, kita memperingati Hari Guru Nasional. Harinya orang-orang mulia, yang tugasnya menyiapkan kemuliaan bagi generasi menuju masa depan yang lebih mulia, orang yang paham bagaimana menjaga kemuliaan. Tema peringatan tahun ini adalah “Peran Strategis Guru dalam Membangun Karakter Bangsa”, sebuah tema yang amat relevan diambil untuk menjadi bahan perenungan, dalam menjalani profesi sebagai guru.

Seorang guru teladan pernah ditanya mengapa dia tertarik menjadi guru. Jawabnya: “Karena guru (bahkan hanya guru) yang dapat merasakan dan menyentuh pinggiran masa depan”. Dia tidak berharap dapat menyentuh masa depan karena itu sesuatu yang mustahil. Tapi cukup dapat menyentuh pinggiran masa depan, karena melalui persinggungan dengan peserta didiknya yang mewakili masa depan tersebut, membuat profesi guru menjadi jauh lebih menarik dari profesi yang lain. Itulah jawaban Sang Guru Teladan.

Dengan kalkulasi matematika sederhana, dengan rata-rata lama sekolah 7.9 tahun (2010), itu berarti kita semua paling tidak pernah bersinggungan dengan peran guru selama 7.9 tahun. Semakin maju suatu bangsa, rata-rata lama sekolahnya semakin tinggi, dan itu berarti kebersinggungan dengan peran guru semakin lama pula.

Berat dan Mulia
Kemampuan menyentuh masa depan, walaupun hanya pinggirannya, menempatkan guru pada tanggung jawab yang sangat berat, namun mulia, karena kemampuan dan kesempatan itu tidak dimiliki oleh yang lain. Pada dirinya tertumpu beban dan tanggung jawab menyiapkan masa depan yang lebih baik, yaitu dengan berfungsi sebagai jembatan bagi para peserta didik untuk melintas menuju masa depan mereka.

Tergantung pada jembatan tersebut, ke masa depan manakah peserta didik tersebut akan dibawa? Dari tiga penggalan masa (masa lalu, masa kini dan masa depan), masa depanlah yang menjadi tujuan, dengan memanfaatkan sebaik-baiknya masa lalu dan masa kini.

Tugas guru adalah mentransformasi generasi penerus demi masa depannya yang lebih baik, lebih berbudaya sekaligus membangun peradaban dan itu adalah tugas yang sangat mulia. Dengan demikian, secara hakiki dan asali (genuine) guru adalah mulia, menjadi guru menjadi mulia, bahkan kemuliaannya tanpa memerlukan atribut asesorial. Memuliakan profesi yang mulia (guru) adalah kemuliaan, dan hanya orang-orang mulia yang tahu bagaimana memuliakan dan menghargai kemuliaan. Bahkan Sayyidina Ali pernah menyampaikan: “Saya menjadi hamba (menghormati dan memuliakan) bagi orang yang mengajarkan kepada saya meskipun hanya satu huruf”.

Bertanggungjawab terhadap pembentukan masa depan menunjukkan bahwa guru berbeda dengan profesi yang lain. Sehingga menjadi tidak berlebihan, apabila sebagai profesi, guru mendapat kehormatan memiliki Hari Guru. Kehormatan yang tinggi ini memiliki implikasi pentingnya profesionalitas guru.
Profesionalitas guru baru akan terasa hasilnya pada masa depan, yang apabila salah arah, akan mustahil diputar kembali untuk memperbaikinya, karena pendidikan adalah proses yang tidak bisa dibalik (irreversible process). Dampaknya yang masif pada saat jauh mendatang mengharuskan profesionalitas guru untuk dijaga dan terus ditingkatkan dengan hati-hati dan waspada dan tidak boleh terjebak hanya karena pertimbangan kepentingan praktis sesaat.

Oksigen-Air
Hubungan antara profesionalitas dengan kompetensi, ibarat keberadaan unsur oksigen di dalam air. Mustahil, keberadaan air tanpa kehadiran unsur oksigen. Oleh karena itu, pemikiran tentang pentingnya pengukuran (uji) kompetensi yang dikaitkan dengan proses sertifikasi adalah suatu keniscayaan. Hal ini dilakukan untuk mengukur lebih teliti kesiapan menjalani profesi guru dan menjamin bahwa masa depan tidaklah salah arah.
Ke depan, bukan hanya kesiapan yang akan diukur, tapi lebih jauh lagi adalah kelayakan seseorang menjalani profesi guru. Sehingga menjadi guru, di samping panggilan hati nurani, dia harus siap dan layak untuk menjalani profesi guru. Pemberian perhatian secara khusus mulai dari rekruitmen calon guru, pendidikan guru, sistem peningkatan profesionalitas sampai dengan perlindungan dan kesejahteraan guru menjadi mutlak dilakukan, inilah yang sekarang ini sedang dilakukan pemerintah.
Kelayakan menjalani profesi guru sangat diperlukan mengingat tugas guru memiliki ukuran multi dimensional yang sangat kompleks terkait dengan penyiapan generasi penerus yang lebih baik dalam segala hal. Ketidaklayakan guru, bisa berakibat terjadinya kecacatan dalam proses pembentukan pola pikir, pengasahan mata hati dan perilaku sosial dari peserta didik. Hal ini akan menjadi beban, baik bagi dirinya maupun masyarakat. Sebagai jembatan ke masa depan, guru harus memastikan bahwa peserta didiknya adalah jembatan bagi masa depan mereka menuju ke masa depan berikutnya.

Memberi Inspirasi
Dalam mempersiapkan masa depan itulah, guru tidak cukup hanya mengajarkan apa yang diketahuinya karena itu bisa menjadi tidak relevan lagi pada masa mendatang di mana peserta didik tersebut hidup. Guru yang baik akan menjelaskan sesuatu kepada muridnya sehingga paham, tetapi guru yang hebat adalah guru yang mampu memberikan inspirasi dan motivasi kepada muridnya, sehingga mampu berbuat sesuatu yang baik dengan kemampuannya sendiri. Di sinilah pentingnya guru, sebagai sumber keteladanan dan kemampuannya dalam menumbuhkan motivasi.
Sebagaimana disampaikan pada kata bijak, satu tindakan baik dari seorang murid yang berasal dari inspirasi seorang guru adalah lebih penting dari semua hafalan dan ilmu yang diperolehnya selama sekolah.
Kemampuan membentuk karakter peserta didik tidak boleh terabaikan, tetapi menjadi satu kesatuan dari tugas guru, tugas dunia pendidikan, yaitu membentuk kepribadian yang unggul dan mulia, serta mengajarkan pengetahuan dan keterampilan.
Kemampuan semacam ini hanya dimiliki oleh sedikit orang yang berbakat, berhasrat, dan berkemampuan menjadi guru. Dan itu, adalah ibu dan bapak guru. Berbahagialah, wahai ibu dan bapak guru sekalian yang telah terpilih mengemban tugas suci kemanusiaan ini. Semoga.http://kemdiknas.go.id

URGENSI PENDIDIKAN KARAKTER Desember 30, 2011

Posted by smpn3cipongkor in Uncategorized.
Tags: ,
add a comment

oleh : Prof . Suyanto Ph.D

Karakter adalah cara berpikir dan berperilaku yang menjadi ciri khas tiap individu untuk hidup dan bekerjasama, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa dan negara. Individu yang berkarakter baik adalah individu yang bisa membuat keputusan dan siap mempertanggungjawabkan tiap akibat dari keputusan yang ia buat.

Pembentukan karakter merupakan salah satu tujuan pendidikan nasional. Pasal I UU Sisdiknas tahun 2003 menyatakan bahwa di antara tujuan pendidikan nasional adalah mengembangkan potensi peserta didik untuk memiliki kecerdasan, kepribadian dan akhlak mulia.

Amanah UU Sisdiknas tahun 2003 itu bermaksud agar pendidikan tidak hanya membentuk insan Indonesia yang cerdas, namun juga berkepribadian atau berkarakter, sehingga nantinya akan lahir generasi bangsa yang tumbuh berkembang dengan karakter yang bernafas nilai-nilai luhur bangsa serta agama.

Pendidikan yang bertujuan melahirkan insan cerdas dan berkarakter kuat itu, juga pernah dikatakan Dr. Martin Luther King, yakni; intelligence plus character… that is the goal of true education (kecerdasan yang berkarakter… adalah tujuan akhir pendidikan yang sebenarnya).

Memahami Pendidikan Karakter
Pendidikan karakter adalah pendidikan budi pekerti plus, yaitu yang melibatkan aspek pengetahuan (cognitive), perasaan (feeling), dan tindakan (action). Menurut Thomas Lickona, tanpa ketiga aspek ini, maka pendidikan karakter tidak akan efektif.

Dengan pendidikan karakter yang diterapkan secara sistematis dan berkelanjutan, seorang anak akan menjadi cerdas emosinya. Kecerdasan emosi ini adalah bekal penting dalam mempersiapkan anak menyongsong masa depan, karena seseorang akan lebih mudah dan berhasil menghadapi segala macam tantangan kehidupan, termasuk tantangan untuk berhasil secara akademis.

Terdapat sembilan pilar karakter yang berasal dari nilai-nilai luhur universal, yaitu: pertama, karakter cinta Tuhan dan segenap ciptaan-Nya; kedua, kemandirian dan tanggungjawab; ketiga, kejujuran/amanah, diplomatis; keempat, hormat dan santun; kelima, dermawan, suka tolong-menolong dan gotong royong/kerjasama; keenam, percaya diri dan pekerja keras; ketujuh, kepemimpinan dan keadilan; kedelapan, baik dan rendah hati, dan; kesembilan, karakter toleransi, kedamaian, dan kesatuan.

Kesembilan pilar karakter itu, diajarkan secara sistematis dalam model pendidikan holistik menggunakan metode knowing the good, feeling the good, dan acting the good. Knowing the good bisa mudah diajarkan sebab pengetahuan bersifat kognitif saja. Setelah knowing the good harus ditumbuhkan feeling loving the good, yakni bagaimana merasakan dan mencintai kebajikan menjadi engine yang bisa membuat orang senantiasa mau berbuat sesuatu kebaikan. Sehingga tumbuh kesadaran bahwa, orang mau melakukan perilaku kebajikan karena dia cinta dengan perilaku kebajikan itu. Setelah terbiasa melakukan kebajikan, maka acting the good itu berubah menjadi kebiasaan.

Dasar pendidikan karakter ini, sebaiknya diterapkan sejak usia kanak-kanak atau yang biasa disebut para ahli psikologi sebagai usia emas (golden age), karena usia ini terbukti sangat menentukan kemampuan anak dalam mengembangkan potensinya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sekitar 50% variabilitas kecerdasan orang dewasa sudah terjadi ketika anak berusia 4 tahun. Peningkatan 30% berikutnya terjadi pada usia 8 tahun, dan 20% sisanya pada pertengahan atau akhir dasawarsa kedua. Dari sini, sudah sepatutnya pendidikan karakter dimulai dari dalam keluarga, yang merupakan lingkungan pertama bagi pertumbuhan karakter anak.

Namun bagi sebagian keluarga, barangkali proses pendidikan karakter yang sistematis di atas sangat sulit, terutama bagi sebagian orang tua yang terjebak pada rutinitas yang padat. Karena itu, seyogyanya pendidikan karakter juga perlu diberikan saat anak-anak masuk dalam lingkungan sekolah, terutama sejak play group dan taman kanak-kanak. Di sinilah peran guru, yang dalam filosofi Jawa disebut digugu lan ditiru, dipertaruhkan. Karena guru adalah ujung tombak di kelas, yang berhadapan langsung dengan peserta didik.

Dampak Pendidikan Karakter
Apa dampak pendidikan karakter terhadap keberhasilan akademik? Beberapa penelitian bermunculan untuk menjawab pertanyaan ini. Ringkasan dari beberapa penemuan penting mengenai hal ini diterbitkan oleh sebuah buletin, Character Educator, yang diterbitkan oleh Character Education Partnership.

Dalam buletin tersebut diuraikan bahwa hasil studi Dr. Marvin Berkowitz dari University of Missouri- St. Louis, menunjukan peningkatan motivasi siswa sekolah dalam meraih prestasi akademik pada sekolah-sekolah yang menerapkan pendidikan karakter. Kelas-kelas yang secara komprehensif terlibat dalam pendidikan karakter menunjukkan adanya penurunan drastis pada perilaku negatif siswa yang dapat menghambat keberhasilan akademik.

Sebuah buku yang berjudul Emotional Intelligence and School Success (Joseph Zins, et.al, 2001) mengkompilasikan berbagai hasil penelitian tentang pengaruh positif kecerdasan emosi anak terhadap keberhasilan di sekolah. Dikatakan bahwa ada sederet faktor-faktor resiko penyebab kegagalan anak di sekolah. Faktor-faktor resiko yang disebutkan ternyata bukan terletak pada kecerdasan otak, tetapi pada karakter, yaitu rasa percaya diri, kemampuan bekerja sama, kemampuan bergaul, kemampuan berkonsentrasi, rasa empati, dan kemampuan berkomunikasi.

Hal itu sesuai dengan pendapat Daniel Goleman tentang keberhasilan seseorang di masyarakat, ternyata 80 persen dipengaruhi oleh kecerdasan emosi, dan hanya 20 persen ditentukan oleh kecerdasan otak (IQ). Anak-anak yang mempunyai masalah dalam kecerdasan emosinya, akan mengalami kesulitan belajar, bergaul dan tidak dapat mengontrol emosinya. Anak-anak yang bermasalah ini sudah dapat dilihat sejak usia pra-sekolah, dan kalau tidak ditangani akan terbawa sampai usia dewasa. Sebaliknya para remaja yang berkarakter akan terhindar dari masalah-masalah umum yang dihadapi oleh remaja seperti kenakalan, tawuran, narkoba, miras, perilaku seks bebas, dan sebagainya.

Beberapa negara yang telah menerapkan pendidikan karakter sejak pendidikan dasar di antaranya adalah; Amerika Serikat, Jepang, Cina, dan Korea. Hasil penelitian di negara-negara ini menyatakan bahwa implementasi pendidikan karakter yang tersusun secara sistematis berdampak positif pada pencapaian akademis.

Seiring sosialisasi tentang relevansi pendidikan karakter ini, semoga dalam waktu dekat tiap sekolah bisa segera menerapkannya, agar nantinya lahir generasi bangsa yang selain cerdas juga berkarakter sesuai nilai-nilai luhur bangsa dan agama.*

http://mandikdasmen.kemdiknas.go.id

Pendidikan Karakter Desember 30, 2011

Posted by smpn3cipongkor in Uncategorized.
Tags: ,
2 comments

Pendidikan Karakter Beri ‘Vaksinasi’ Anak Didik

oleh : Ratna Megawangi, Ph.D.
dasarnya, harus dibangun budaya sekolah yang betul-betul mencerminkan perilaku yang berkarakter.

“Ini semua bermula dari sebuah keinginan berbuat sesuatu untuk Indonesia,” kata Ratna Megawangi, Ph.D., salah satu pencetus ide pendidikan karakter sekaligus Pendiri dan Direktur Eksekutif Indonesia Heritage Foundation (IHF), ketika ditanya alasan mendirikan TK Karakter dan Sekolah Semai Benih Bangsa yang saat ini sudah berjumlah 1.600 buah dan tersebar di berbagai penjuru tanah air.

“Saat itu, semua masalah di Indonesia kan bermuara dari persoalan moral, dan puncaknya tahun 1998 terjadi prahara sosial yang luar biasa,” lanjut istri Dr. Sofyan A. Djalil, SH, MA, MALD, mantan Menteri Negara Komunikasi dan Informasi.

“Sebagai negara yang berlandaskan Pancasila, ” tambah Ratna Megawangi, “mulai SD sampai Perguruan Tinggi, peserta didik kan sudah diberikan pendidikan moral Pancasila. Pegawai Negeri ada P4. Semua isinya baik. Kemudian pelajaran agama, itu juga melengkapi. Semua orang pun hafal apa itu akhlak mulia. Tapi kenapa kok tidak sampai terlihat pada perilaku sehari-hari?”

Lebih jauh mengenai pendidikan karakter, berikut ini petikan wawancara dengan Ratna Megawangi, Ph.D yang dilakukan di kantor Indonesia Heritage Foundation .

Menurut Anda, adakah perbedaan antara pendidikan karakter dan moral?
Antara karakter dan moral itu berbeda. Kalau pendidikan moral itu, kita hanya tahu saja. Kita tahu moral, kita tahu etika, namun belum sampai pada perilaku. Karena memang evaluasinya juga; apakah sudah hafal isi buku?

Kalau pendidikan karakter, itu mengukir manusia sehingga kelihatan dari perbuatannya, karena karakter dalam bahasa latin berarti mengukir. Jadi begitu manusia berkarakter, itu sudah kelihatan langsung dari sistem pikirannya, bicaranya, sampai pada  perilakunya, dan itu konsisten.

Contoh yang paling sederhana, seseorang yang tahu moral sedang berhadapan dengan lampu merah. Bila ia tahu moral, seharusnya dia berhenti. Tapi belum tentu ia melakukan itu kan? Buktinya, ketika ia tahu tidak ada polisi atau sepi, ia main bablas saja. Itu berarti belum berkarakter. Sedangkan orang yang berkarakter, ia akan tetap memegang prinsip, meski tidak ada yang melihat.

Jadi, kenapa kita tahu soal moral baik dan buruk, tapi pada perilakunya tidak tercermin, dan bahkan tidak konsisten antara apa yang dibicarakan dengan yang dilakukan? Itulah akhirnya menjadi pertanyaan-pertanyaan bagaimana dari moral itu menjadi perilaku. Ini tantangan, dan untuk itu kami membangun Indonesia Heritage Foundation, sebuah yayasan warisan nilai-nilai luhur Indonesia, yang mempunyai visi membangun bangsa yang berkarakter.

Bagaimana mengukir karakter?
Untuk menjadikan manusia mempunyai karakter yang bagus itu harus dilakukan dengan cara; selain knowing the good, juga harus tahu the risking of the good. Jadi tahu akibatnya. Feeling the goodnya juga, di mana ada rasa empati, bersalah, malu, kecintaan untuk berbuat baik seperti; oh kalau kita berbuat baik, kita merasa lapang dada. Itu feeling the good. Itu harus dibentuk. Kemudian action the good, jadi itu terus-menerus diperjuangkan. Ini metode yang kami lakukan.

Kemudian, pendidikan karakter itu bukan hanya pelajaran. Ini disepakati juga Wamendiknas, Bapak Fasli Jalal. Pendidikan karakter itu bagaimana membangun sebuah lingkungan, membangun budaya sekolah, membangun sebuah komunitas sekolah yang betul-betul mencerminkan perilaku yang berkarakter. Karena itu harus konsisten; gurunya harus berkarakter karena guru menjadi tauladan, juga satpamnya, dan begitu pula OB-nya juga harus berkarakter.

Nah ini bagaimana, ini sesuatu yang sulit kan? Ini yang saya kuatirkan. Karena masih banyak perilaku guru yang tidak konsisten. Bila lingkungan ini tidak berubah—guru masih tidak konsisten—pendidikan karakter itu pasti akan gagal. Nasibnya bahkan lebih berbahaya, karena perilaku yang tidak konsisten akan melahirkan manusia munafik.

Bagaimana menjadikan guru konsisten?
Ada sebuah sistem. Pertama, kami mempunyai metode training untuk mengajarkan bagaimana guru itu merubah perilakunya. Kedua, untuk menjadikan guru yang berkarakter, itu harus ada acuannya. Dan acuan itu harus ada kurikulumnya, ada modulnya, agar guru menerapkannya. Dengan menerapkannya, guru akan terinspirasi juga untuk merubah dirinya.

Di yayasan kami ini kan ada sembilan pilar karakter, yaitu; 1) Cinta Tuhan dan segenap ciptaanNya; 2) Tanggung jawab, kedisiplinan dan kemandirian; 3) Kejujuran/amanah dan diplomatis; 4) Hormat dan santun; 5) Dermawan, suka menolong, dan gotong royong/kerjasama; 6) Percaya diri, kreatif, dan pekerja keras; 7) Kepemimpinan dan keadilan; 8) Baik dan rendah hati; dan 9) Toleransi, kedamaian dan persatuan.

Dari sembilan pilar karakter itu, kami membuat tools (alat-alat peraga atau instrumen, red). Jadi semua harus ada toolsnya. Ketika guru menggunakan tools dan dia menerapkannya, maka dengan sendirinya guru itu berubah juga. Itu yang kami amati. Tapi kalau hanya latihan tidak ada toolsnya, karakternya itu tidak akan bisa terbentuk.

Ketiga, kalau tidak ada semangat menjadi guru yang berkarakter dan bertaulaudan, ini juga tidak bisa. Dan cara mengajarnya juga tidak boleh menggunakan kekerasan dan hukuman. Karena untuk menjadikan anak yang berakarakter, itu harus menggunakan emosi yang positif dan lingkungan yang positif. Emosi positif ini penting agar anak didik tidak merasa terbebani. Ini tidak gampang. Kami sudah 11 tahun membangun dan melaksanakan ini, dan tidak mudah.

Jadi, guru harus berubah, guru harus jadi teladan, guru ngajarnya harus menyenangkan dan penuh cinta. Kemudian kurikulumnya, kalau kurikulum terlalu berat, ini bisa gagal.

Kemudian, bagaimana di setiap mata pelajaran itu diselipkan pendidikan karakter. Makanya kita juga punya yang disebut character based integrated learning. Ini juga supaya memberikan inspirasi pada soal-soal lain. Jadi memang tidak mudah.

Selanjutnya, harus dilakukan secara holistik. Di sini, kami membangun anak didik tidak hanya dari sisi akademik, tapi juga spiritual, emosi, kreatifitas, daya kritis, dan sebagainya. Manusia yang berkarakter, itu yang seluruh dimensinya bisa berkembang dengan utuh dan seimbang. Jadi memang sangat complicated.

Bagaimana agar pendidikan karakter itu sukses?
Pendidikan karakter ini merupakan good will Pemerintah. Kalau mau berhasil, ini harus total. Seperti model pendidikan di Finlandia, itu benar-benar membangun karakter. Saya sudah pernah ke sana, dan melihat bahwa belajar itu tidak hanya duduk di kelas. Tapi ada project based. Semua concrete learning. Misalkan berhitung, itu menggunakan permainan. Jadi pendidikan karakter itu betul-betul bagaimana kurikulum dan cara mengajarnya bisa membangkitkan semangat anak didik.

Yang dikuatirkan ketika anak didik berada di luar sekolah. Misalkan pendidikan karakter di dalam sekolah itu berjalan cukup sukses. Tapi ketika mereka berinteraksi dengan masyarakat, kan mereka mendapatkan begitu banyak pengaruh. Lha, ini bagaimana?
Kalau kami prinsipnya begini, pendidikan karakter itu memberikan vaksinasi kepada anak didik. Kita tidak bisa membuat lingkungan itu steril. Tapi kalau dalam diri anak itu kuat, mudah-mudahan mereka tidak terpengaruh.

Di sini, pendidikan karakter diterapkan secara holistik; menyenangkan, penuh cinta, dan ada ikatan batin antara anak didik dengan guru, sehingga anak didik tidak mau menyalahi aturan. Jadi bagaimana membuat nilai-nilai pendidikan karakter itu terinternalisasi dalam diri anak didik. Itu yang akan menjadi imunisasi dalam diri anak didik, sehingga tidak mudah terpengaruh.

Misalkan, anak saya yang saat itu masih kelas 4 SD sedang menonton sinetron. Dalam sinetron itu ada adegan bentak-bentakan. Melihatnya, anak saya langsung memindahkan channelnya. “Ngapain sih kok bentak-bentakan?” kata anak saya. Nah, ini merupakan hasil imunisasi pendidikan karakter pada anak didik. Dia tidak terpengaruh. Dia malah kasih komentar, sinetron itu kok norak banget sih? Jadi dia sudah bisa menilai bahwa adegan bentak-bentakan dalam sinetron itu tidak baik.

Selain itu, pendidikan karakter juga menjadikan anak didik memiliki sikap kritis. Karena anak yang berkarakter itu bisa menilai; hal ini bagus buat saya atau tidak? Untuk menjadikan anak didik kritis, diberikanlah cara belajar yang memberi kesempatakan mereka banyak bicara. Jadi guru itu hanya fasilitator saja.

Apakah sembilan pilar karakter dalam yayasan ini memang warisan nilai-nilai luhur Indonesia?
Nilai-nilai luhur ini bukan hanya dari Indonesia saja. Tapi universal, diambil dari semua budaya dan agama. Misalkan kejujuran, kepemimpinan, dan adil itu kan universal. Jadi di IHF ini ada guru Agama Kristen, ada murid yang agama Kristen juga.

Bagaimana menjadikan guru itu memiliki sembilan pilar karakter tersebut?
Menjadikan guru-guru bisa mengajar dengan cinta memang tidak mudah. Selain membuka wawasan, kami juga menerapkan pelatihan kepada guru hingga mereka menangis, hingga mereka merasa bersalah bahwa selama ini yang mereka lakukan kurang benar dan ada yang perlu diperbaiki. Karena kalau tanpa insaf terlebih dahulu, pendidikan karakter susah dilaksanakan. Kalau guru masih membentak saat mengajar misalkan, hati anak didik itu bisa mengkerut. Dan anak didik yang hatinya mengkerut, pasti susah mendapatkan masukan-masukan. Jadi, bagaimana menumbuhkan obor semangat dalam diri anak didik.

Anak didik di sini, ketika dia salah, itu tidak langsung dimarahin. Tapi ada konsekuensi, dan ia diminta pertanggungjawaban. Sehingga anak didik bisa merefleksikan kesalahannya, dan ia sadar bahwa misalkan; oh, ternyata saya sedang dikuasai otak reptil, dan karena itu saya minta maaf. Jadi, ini merupakan sesuatu yang menarik, menantang, dan full feeling. Ada kebahagiaan batin selama mendidik. Dan kami terbuka untuk observasi. Jadi siapa pun yang mau datang ke sini untuk observasi, maka dipersilahkan.

Jadi, Training guru yang pernah kami lakukan itu selama 15 hari. Mulai pagi sampai sore, kadang sampai malam juga. Dan mereka diberikan tools untuk mengajar.

Ada yang perlu disampaikan?
Pendidikan karakter yang dicanangkan Pemerintah ini semangatnya bagus, dan saya sangat senang sekali. Hanya saja, untuk membangun karakter, sebaiknya dirubah dahulu budaya sekolah yang ada selama ini. Termasuk keteladanan, itu memang benar-benar harus ada di sekolah. Kemudian, bagaimana sekolah itu penuh dengan semangat dan cinta, sehingga ada kelekatan emosi antara sekolah dan murid, itu yang harus dibentuk.

Terus bagaimana level stress anak didik itu diminimalis, karena ketika anak didik sudah stress, akibatnya bisa berkepanjangan. Akan menjadi neurotik, bahkan. Itu tidak berkarakter, dan bisa menciptkan sesuatu yang tak diharapkan, seperti munculnya perilaku kekerasan, tawuran, atau bahkan minder, depresi, hingga bunuh diri.* [Adib Minnanurrachim, BillyAntoro]http://dikdas.kemdiknas.go.id