jump to navigation

Pendidikan Karakter Desember 30, 2011

Posted by smpn3cipongkor in Uncategorized.
Tags: ,
trackback

Pendidikan Karakter Beri ‘Vaksinasi’ Anak Didik

oleh : Ratna Megawangi, Ph.D.
dasarnya, harus dibangun budaya sekolah yang betul-betul mencerminkan perilaku yang berkarakter.

“Ini semua bermula dari sebuah keinginan berbuat sesuatu untuk Indonesia,” kata Ratna Megawangi, Ph.D., salah satu pencetus ide pendidikan karakter sekaligus Pendiri dan Direktur Eksekutif Indonesia Heritage Foundation (IHF), ketika ditanya alasan mendirikan TK Karakter dan Sekolah Semai Benih Bangsa yang saat ini sudah berjumlah 1.600 buah dan tersebar di berbagai penjuru tanah air.

“Saat itu, semua masalah di Indonesia kan bermuara dari persoalan moral, dan puncaknya tahun 1998 terjadi prahara sosial yang luar biasa,” lanjut istri Dr. Sofyan A. Djalil, SH, MA, MALD, mantan Menteri Negara Komunikasi dan Informasi.

“Sebagai negara yang berlandaskan Pancasila, ” tambah Ratna Megawangi, “mulai SD sampai Perguruan Tinggi, peserta didik kan sudah diberikan pendidikan moral Pancasila. Pegawai Negeri ada P4. Semua isinya baik. Kemudian pelajaran agama, itu juga melengkapi. Semua orang pun hafal apa itu akhlak mulia. Tapi kenapa kok tidak sampai terlihat pada perilaku sehari-hari?”

Lebih jauh mengenai pendidikan karakter, berikut ini petikan wawancara dengan Ratna Megawangi, Ph.D yang dilakukan di kantor Indonesia Heritage Foundation .

Menurut Anda, adakah perbedaan antara pendidikan karakter dan moral?
Antara karakter dan moral itu berbeda. Kalau pendidikan moral itu, kita hanya tahu saja. Kita tahu moral, kita tahu etika, namun belum sampai pada perilaku. Karena memang evaluasinya juga; apakah sudah hafal isi buku?

Kalau pendidikan karakter, itu mengukir manusia sehingga kelihatan dari perbuatannya, karena karakter dalam bahasa latin berarti mengukir. Jadi begitu manusia berkarakter, itu sudah kelihatan langsung dari sistem pikirannya, bicaranya, sampai pada  perilakunya, dan itu konsisten.

Contoh yang paling sederhana, seseorang yang tahu moral sedang berhadapan dengan lampu merah. Bila ia tahu moral, seharusnya dia berhenti. Tapi belum tentu ia melakukan itu kan? Buktinya, ketika ia tahu tidak ada polisi atau sepi, ia main bablas saja. Itu berarti belum berkarakter. Sedangkan orang yang berkarakter, ia akan tetap memegang prinsip, meski tidak ada yang melihat.

Jadi, kenapa kita tahu soal moral baik dan buruk, tapi pada perilakunya tidak tercermin, dan bahkan tidak konsisten antara apa yang dibicarakan dengan yang dilakukan? Itulah akhirnya menjadi pertanyaan-pertanyaan bagaimana dari moral itu menjadi perilaku. Ini tantangan, dan untuk itu kami membangun Indonesia Heritage Foundation, sebuah yayasan warisan nilai-nilai luhur Indonesia, yang mempunyai visi membangun bangsa yang berkarakter.

Bagaimana mengukir karakter?
Untuk menjadikan manusia mempunyai karakter yang bagus itu harus dilakukan dengan cara; selain knowing the good, juga harus tahu the risking of the good. Jadi tahu akibatnya. Feeling the goodnya juga, di mana ada rasa empati, bersalah, malu, kecintaan untuk berbuat baik seperti; oh kalau kita berbuat baik, kita merasa lapang dada. Itu feeling the good. Itu harus dibentuk. Kemudian action the good, jadi itu terus-menerus diperjuangkan. Ini metode yang kami lakukan.

Kemudian, pendidikan karakter itu bukan hanya pelajaran. Ini disepakati juga Wamendiknas, Bapak Fasli Jalal. Pendidikan karakter itu bagaimana membangun sebuah lingkungan, membangun budaya sekolah, membangun sebuah komunitas sekolah yang betul-betul mencerminkan perilaku yang berkarakter. Karena itu harus konsisten; gurunya harus berkarakter karena guru menjadi tauladan, juga satpamnya, dan begitu pula OB-nya juga harus berkarakter.

Nah ini bagaimana, ini sesuatu yang sulit kan? Ini yang saya kuatirkan. Karena masih banyak perilaku guru yang tidak konsisten. Bila lingkungan ini tidak berubah—guru masih tidak konsisten—pendidikan karakter itu pasti akan gagal. Nasibnya bahkan lebih berbahaya, karena perilaku yang tidak konsisten akan melahirkan manusia munafik.

Bagaimana menjadikan guru konsisten?
Ada sebuah sistem. Pertama, kami mempunyai metode training untuk mengajarkan bagaimana guru itu merubah perilakunya. Kedua, untuk menjadikan guru yang berkarakter, itu harus ada acuannya. Dan acuan itu harus ada kurikulumnya, ada modulnya, agar guru menerapkannya. Dengan menerapkannya, guru akan terinspirasi juga untuk merubah dirinya.

Di yayasan kami ini kan ada sembilan pilar karakter, yaitu; 1) Cinta Tuhan dan segenap ciptaanNya; 2) Tanggung jawab, kedisiplinan dan kemandirian; 3) Kejujuran/amanah dan diplomatis; 4) Hormat dan santun; 5) Dermawan, suka menolong, dan gotong royong/kerjasama; 6) Percaya diri, kreatif, dan pekerja keras; 7) Kepemimpinan dan keadilan; 8) Baik dan rendah hati; dan 9) Toleransi, kedamaian dan persatuan.

Dari sembilan pilar karakter itu, kami membuat tools (alat-alat peraga atau instrumen, red). Jadi semua harus ada toolsnya. Ketika guru menggunakan tools dan dia menerapkannya, maka dengan sendirinya guru itu berubah juga. Itu yang kami amati. Tapi kalau hanya latihan tidak ada toolsnya, karakternya itu tidak akan bisa terbentuk.

Ketiga, kalau tidak ada semangat menjadi guru yang berkarakter dan bertaulaudan, ini juga tidak bisa. Dan cara mengajarnya juga tidak boleh menggunakan kekerasan dan hukuman. Karena untuk menjadikan anak yang berakarakter, itu harus menggunakan emosi yang positif dan lingkungan yang positif. Emosi positif ini penting agar anak didik tidak merasa terbebani. Ini tidak gampang. Kami sudah 11 tahun membangun dan melaksanakan ini, dan tidak mudah.

Jadi, guru harus berubah, guru harus jadi teladan, guru ngajarnya harus menyenangkan dan penuh cinta. Kemudian kurikulumnya, kalau kurikulum terlalu berat, ini bisa gagal.

Kemudian, bagaimana di setiap mata pelajaran itu diselipkan pendidikan karakter. Makanya kita juga punya yang disebut character based integrated learning. Ini juga supaya memberikan inspirasi pada soal-soal lain. Jadi memang tidak mudah.

Selanjutnya, harus dilakukan secara holistik. Di sini, kami membangun anak didik tidak hanya dari sisi akademik, tapi juga spiritual, emosi, kreatifitas, daya kritis, dan sebagainya. Manusia yang berkarakter, itu yang seluruh dimensinya bisa berkembang dengan utuh dan seimbang. Jadi memang sangat complicated.

Bagaimana agar pendidikan karakter itu sukses?
Pendidikan karakter ini merupakan good will Pemerintah. Kalau mau berhasil, ini harus total. Seperti model pendidikan di Finlandia, itu benar-benar membangun karakter. Saya sudah pernah ke sana, dan melihat bahwa belajar itu tidak hanya duduk di kelas. Tapi ada project based. Semua concrete learning. Misalkan berhitung, itu menggunakan permainan. Jadi pendidikan karakter itu betul-betul bagaimana kurikulum dan cara mengajarnya bisa membangkitkan semangat anak didik.

Yang dikuatirkan ketika anak didik berada di luar sekolah. Misalkan pendidikan karakter di dalam sekolah itu berjalan cukup sukses. Tapi ketika mereka berinteraksi dengan masyarakat, kan mereka mendapatkan begitu banyak pengaruh. Lha, ini bagaimana?
Kalau kami prinsipnya begini, pendidikan karakter itu memberikan vaksinasi kepada anak didik. Kita tidak bisa membuat lingkungan itu steril. Tapi kalau dalam diri anak itu kuat, mudah-mudahan mereka tidak terpengaruh.

Di sini, pendidikan karakter diterapkan secara holistik; menyenangkan, penuh cinta, dan ada ikatan batin antara anak didik dengan guru, sehingga anak didik tidak mau menyalahi aturan. Jadi bagaimana membuat nilai-nilai pendidikan karakter itu terinternalisasi dalam diri anak didik. Itu yang akan menjadi imunisasi dalam diri anak didik, sehingga tidak mudah terpengaruh.

Misalkan, anak saya yang saat itu masih kelas 4 SD sedang menonton sinetron. Dalam sinetron itu ada adegan bentak-bentakan. Melihatnya, anak saya langsung memindahkan channelnya. “Ngapain sih kok bentak-bentakan?” kata anak saya. Nah, ini merupakan hasil imunisasi pendidikan karakter pada anak didik. Dia tidak terpengaruh. Dia malah kasih komentar, sinetron itu kok norak banget sih? Jadi dia sudah bisa menilai bahwa adegan bentak-bentakan dalam sinetron itu tidak baik.

Selain itu, pendidikan karakter juga menjadikan anak didik memiliki sikap kritis. Karena anak yang berkarakter itu bisa menilai; hal ini bagus buat saya atau tidak? Untuk menjadikan anak didik kritis, diberikanlah cara belajar yang memberi kesempatakan mereka banyak bicara. Jadi guru itu hanya fasilitator saja.

Apakah sembilan pilar karakter dalam yayasan ini memang warisan nilai-nilai luhur Indonesia?
Nilai-nilai luhur ini bukan hanya dari Indonesia saja. Tapi universal, diambil dari semua budaya dan agama. Misalkan kejujuran, kepemimpinan, dan adil itu kan universal. Jadi di IHF ini ada guru Agama Kristen, ada murid yang agama Kristen juga.

Bagaimana menjadikan guru itu memiliki sembilan pilar karakter tersebut?
Menjadikan guru-guru bisa mengajar dengan cinta memang tidak mudah. Selain membuka wawasan, kami juga menerapkan pelatihan kepada guru hingga mereka menangis, hingga mereka merasa bersalah bahwa selama ini yang mereka lakukan kurang benar dan ada yang perlu diperbaiki. Karena kalau tanpa insaf terlebih dahulu, pendidikan karakter susah dilaksanakan. Kalau guru masih membentak saat mengajar misalkan, hati anak didik itu bisa mengkerut. Dan anak didik yang hatinya mengkerut, pasti susah mendapatkan masukan-masukan. Jadi, bagaimana menumbuhkan obor semangat dalam diri anak didik.

Anak didik di sini, ketika dia salah, itu tidak langsung dimarahin. Tapi ada konsekuensi, dan ia diminta pertanggungjawaban. Sehingga anak didik bisa merefleksikan kesalahannya, dan ia sadar bahwa misalkan; oh, ternyata saya sedang dikuasai otak reptil, dan karena itu saya minta maaf. Jadi, ini merupakan sesuatu yang menarik, menantang, dan full feeling. Ada kebahagiaan batin selama mendidik. Dan kami terbuka untuk observasi. Jadi siapa pun yang mau datang ke sini untuk observasi, maka dipersilahkan.

Jadi, Training guru yang pernah kami lakukan itu selama 15 hari. Mulai pagi sampai sore, kadang sampai malam juga. Dan mereka diberikan tools untuk mengajar.

Ada yang perlu disampaikan?
Pendidikan karakter yang dicanangkan Pemerintah ini semangatnya bagus, dan saya sangat senang sekali. Hanya saja, untuk membangun karakter, sebaiknya dirubah dahulu budaya sekolah yang ada selama ini. Termasuk keteladanan, itu memang benar-benar harus ada di sekolah. Kemudian, bagaimana sekolah itu penuh dengan semangat dan cinta, sehingga ada kelekatan emosi antara sekolah dan murid, itu yang harus dibentuk.

Terus bagaimana level stress anak didik itu diminimalis, karena ketika anak didik sudah stress, akibatnya bisa berkepanjangan. Akan menjadi neurotik, bahkan. Itu tidak berkarakter, dan bisa menciptkan sesuatu yang tak diharapkan, seperti munculnya perilaku kekerasan, tawuran, atau bahkan minder, depresi, hingga bunuh diri.* [Adib Minnanurrachim, BillyAntoro]http://dikdas.kemdiknas.go.id

Komentar»

1. sangoaji - Januari 10, 2012

nice info pak…semoga karakter para petinggi negara kita bisa jadi lebih baik..

2. Buku Parenting - Agustus 12, 2014

Pretty! This was an extremely wonderful article. Thank you for providing
these details.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: